Bukannya Foke muncul, malah Wimar menghilang.
Bukannya kampanye curang dihentikan, malah yang nanyain dihentikan.
Sudah berminggu-minggu semua orang termasuk Wimar menunggu kehadiran Fauzi Bowo, satu-satunya Calon Gubernur yang belum memenuhi undangan ke Gubernur Kita untuk memperkenalkan diri ke pemilih dan menerangkan visi dan misi sebagai Gubernur mendatang. Padahal banyak sekali pertanyaan untuk Bang Foke, antara lain mengenai niat dia sebagai penerus Gubernur Sutiyoso dan mengenai kampanye terselubung menggunakan duit rakyat.
Setelah episode Gubernur Kita Kamis lalu masih menyinggung etika kampanye Fauzi Bowo, Jak-TV mengaku ke WW mereka ditekan oleh orang Fauzi Bowo, dan akhirnya hari Senin pagi (21/5) memberhentikan Wimar dari tugas panelis Gubernur Kita.

Effendi Ghazali (moderator), Ryaas Rasyid (masih panelis), Wimar Witoelar (mantan panelis)
Pemberhentian ini pertama dilaporkan oleh berpolitik.com, Wimar Dipecat dari Gubernur Kita!
Akhirnya terjadi juga. Wimar Witoelar resmi dipecat sebagai panelis dalam acara Gubernur Kita yang mengudara setiap Kamis malam di Jakarta TV. Pemberhentian itu sebenarnya sudah diproses sejak Jumat lalu (18/5). Pihak Jak TV sudah bertemu dengan staf Wimar. Dalam pembicaraan itu, Jak TV meminta Wimar mengundurkan diri. Pasalnya, pihak stasiun yang antara lain sahamnya dimiliki oleh Eric Thohir ini mendapat banyak SMS dari yang mereka sebut sebagai “orang-orang penting” perihal omongan Wimar yang mempersoalkan iklan terselubungnya Fauzi Bowo.
Ketika dihubungi per telpon siang ini (21/5), Wimar setengah bergurau masih sempat bilang, “Ini bab dua, kelanjutannya, he..hee. Kali ini atas perintah orang-orang sekitarnya Fauzi Bowo.”
Baca wawancara pertama Wimar mengenai kasus ini di berpolitik.com
Kemudian detikcom juga melaporkan, Kritisi Fauzi Bowo, Wimar Ditendang dari Gubernur Kita:
“Saya diberhentikan tadi pagi. Disampaikan secara lisan, berkali-kali berhubungan dengan staf saya,” ungkap Wimar saat dihubungi detikcom, Senin (21/5/2007). Pernyataan lisan itu, menurut Wimar, disampaikan oleh Produser JakTV Martin Mohede.
Apa alasan Martin memberhentikan Wimar sebagai panelis dalam acara yang digelar setiap Kamis malam itu? “Dia minta saya mengundurkan diri karena mengganggu kenyamanan Fauzi Bowo,” kata Wimar menyebutkan alasan Martin.
Saat ditanya wartawan yang sama, pihak JakTV memberikan alasan yang berbeda: JakTV Bantah Ditekan Fauzi Bowo:
“…Ini semata masalah Wimar keluar dari komitmen,” ungkap Produser Eksekutif ‘Gubernur Kita’ JakTV Martin Mohede dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (21/5/2007). Menurut Martin, saat acara itu digagas, terjalin komitmen tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain. “Kita komitmen acara ini untuk cari solusi. Boleh kritis, tapi ujung-ujungnya solusi,” jelas Martin.

Martin Mohede, Produser Eksekutif ‘Gubernur Kita’
Masih mencari siapa yang menekan, detikcom bertanya ke Fauzi Bowo Center yang menjawab: Fauzi Bowo Tidak Menekan JakTV:
“Waduh, fitnah itu. Nggak kepikiran kita melakukan itu,” cetus Direktur Fauzi Bowo Center, Makmun Amin, saat dihubungi detikcom, Senin (21/5/2007). Menurut Makmun, Fauzi Bowo sendiri tidak pernah berkomentar apa-apa atas acara ‘Gubernur Kita’ itu. “Tidak logis itu. Tidak pernah juga terlintas di tim pendukung untuk menghubungi JakTV itu,” kata Makmun.
Siapapun yang menekan pasti tidak akan mengaku, tapi siapa sih yang diuntungkan dari pemecatan ini? Menurut Faisal Basri dalam liputan berpolitik.com: Citra Fauzi Justru Makin Buruk:
…pemecatan terhadap Wimar sebenarnya justru makin merugikan citra Fauzi Bowo sendiri. Menurut Faisal, tak soal apakah yang melakukan itu orang-orang dekatnya atau memang atas kehendak dirinya sendiri. Selama Fauzi membiarkan atau tak membantahnya, berarti dia bisa dianggap menyetujuinya. Jadi, “Jangan salahkan orang lain jika ada anggapan, ‘baru jadi calon saja sudah begitu, bagaimana jika sudah benar-benar jadi Gubernur,” ujarnya prihatin.
Sama dengan saat JakTV memberhentikan acara rating tertingginya sendiri, Wimar’s World, Wimar tidak ingin berita ini menjadi soal dirinya. Don’t worry, WW sih baik-baik saja, karena secara pribadi sudah biasa dibredel sejak jaman Perspektif, Selayang Pandang, Dialog Aktual. Yang perlu dikasihani justru adalah media, penonton, dan kredibilitas acara Gubernur Kita.
Apakah penonton masih bisa percaya acara mengenai Pilkada yang ceritanya mengangkat semua masalah tapi sekalinya mengangkat soal etika kampanye, satu panelis independen dipecat, sementara satu panelis yang disimpan adalah ketua salah satu partai pendukung Fauzi Bowo merangkap anggota tim sukses Fauzi Bowo, dalam acara yang disponsor iklan Fauzi Bowo di setiap break, dari stasiun yang bisnis pemiliknya sangat tergantung pada kelompok Sutiyoso-Fauzi? Jawabannya ada di Anda sendiri…
Cerita Di Balik Layar Gubernur Kita
Masih belum bosan dengan cerita menyedihkan ini dan ingin dengar langsung dari Wimar? Silakan simak transkrip wawancara Wimar di Radio Utankayu 89,2FM KBR 68H Senin (21/5) malam mengenai Gubernur Kita dari awal sampai sekarang dan permasalahan JakTV, beserta SMS dari pendengar radio:
Host Sandra Sahelangi: Selamat malam, bung Wimar?
Wimar Witoelar: Selamat malam, dengan Sandra ya?
SS: Betul sekali. Saya sebenarnya bingung ini mengucapkan selamat atau prihatin atas pemecatan anda. Kalau selamat mungkin karena pemecatan anda berhasil menunjukan kualitas pejabat publik kita dimata masyarakat, prihatin kenapa anda yang harus dieliminasi?
WW: Saya kira, fokusnya jangan pada saya, karena saya sudah hidup lama dalam situasi begini, tapi apa keadaan media kita dan kekuasaan pada saat ini, ya itu saya prihatin.
SS: Sudah deal dihentikan ya?
WW: Sudah ditelepon sebetulnya. sudah beberapa kali pertemuan dengan staff saya. yang terakhir kemaren sore, saya juga ikut. Rupanya mereka itu sebetulnya ingin saya mengundurkan diri jadi kan lebih mudah, tapi saya rasa kalau saya mengundurkan diri itu tidak fair terhadap orang yang mendukung pendapat-pendapat yang seperti saya ini, kok begitu kita menunjukkan suatu korupsi besar dari salah satu calon, dimarahin lalu mundur. lalu saya bilang kalau mau berhentikan silahkan karena ini acara anda tapi saya tidak akan mengundurkan diri. Jadi dia bilang, “Baiklah, kita tunggu rapat board dan kami bertahu”. Jadi saya bilang, “Saya dikasih tahu dong sebelum kamis”, kamis malam acaranya supaya saya gak dateng ke studio. kalau saya diberhentikan saya tidak datang, kalau tidak dikasih pemberitahuan ya saya datang. Terus saya bilang “Kalau bisa, kalau diberhentikan pakai surat jangan kayak pada waktu pemberhentian yang dulu“, itu yang Wimar’s World tidak ada suratnya jadi komentar Jak-TV itu rada membingungkan masyarakat. Jadi dia janji ok, kita akan rapat board dan kita akan kasih surat, tapi rupanya tadi pagi 7.30 sudah ada telepon kepada rekan saya Susy Magdalena memberitahukan bahwa saya diberhentikan, tapi saya tidak tahu jam berapa rapatnya karena kemaren saya sampai malam gitu ya. Terus waktu ditanya suratnya, ya akan datang siang tapi sampai tadi, sampai sekarang, tidak datang jadi saya pikir kalau ditanya ya saya cerita saja seadanya. janjinya ada surat tapi tidak ada. tapi yang jelas diberhentikan.
SS: Saya juga agak jarang nonton acara itu, mungkin bisa dijelaskan dulu ke pendengar, nanti akan ada interaktif bersama dengan anda, sudah ada pendengar yang ingin ngobrol dengan anda, bisa dijelaskan secara singkat format Gubernur Kita seperti apa?
WW: Pada awalnya kelihatannya acara bagus, sebab udah lama ini, bulan Agustus atau September 2006, saya diundang oleh Effendi Ghazali dan oleh Produser Jak-TV saudara Martin Mohede untuk ikut jadi panelis dalam acara yang maksudnya untuk sosialisasi Pilkada menjelaskan sistemnya dan ikut memantau kelancarannya dan nantinya yang akan menarik, ikut menilai para calon gubernurnya. Wah asyik juga. Terus saya tanya, apa yakin mau minta saya, sebab Jak-TV ini saya tahu banyak dipengaruhi Pak Sutiyoso dan orang tahu, saya kritis terhadap semua orang yang korup, termasuk Sutiyoso tentunya. Jadi kalau ngundang saya, konsekuensinya saya akan bicara seperti saya biasanya bicara. tapi mereka bilang kita mau mengajarkan demokrasi. Saya sendiri tidak mencari alasan khusus untuk menyerang satu orang, tapi kalau masalah itu muncul ya saya tanya misalnya Busway korupsi kan panitianya sudah diadili masuk penjara, suppliernya sudah diadili masuk penjara, tapi mereka itu sebelum dibawa pergi katanya hanya melakukannya atas instruksi Gubernur. Saya mau tanya “ini betul tidak?”, tapi setiap saya tanya begitu orang resah.

Mempersembahkan show baru: Gubernur Kita! (Oktober 2006)
SS: Kalau Fauzi Bowo ini kritikan apa sih, sampai kemudian anda bisa dieliminasi?
WW: Sebetulnya pertama pertanyaan mengapa dia tidak pernah mau datang. Karena semua calon Gubernur, baik yang masih bakal calon, maupun yang sudah agak fix, semua itu sudah datang berderetan, Eddi Waluyo, Bibit Waluyo, Faisal Basri, Sarwono, Agum Gumelar sebutlah semua orang itu. Kalau di Indonesian Idol tuh yang babak pertama hadir semua tapi Fauzi Bowo sampai saat ini belum hadir, waktu itu ada 2 yang belum hadir pak Adang dan Fauzi Bowo jadi saya bilang: “Datang dong, supaya kita bisa tanya” sebab banyak pendukung kami, sebab acara kami ini didukung oleh website www.perspektif.net yang anda bisa buka juga nanti malam ini, atau besok pagi, dimana banyak pertanyaan yang dititipkan dari masyarakat. Jadi kalau tidak datang saya tidak bisa tanya, sampai saat ini saya belum pernah ketemu Fauzi Bowo itu seumur hidup, Adang Dorodjatun juga belum tapi waktu pak Adang datang, dia datang, dia senyum, dengan baik-baik, mencoba menjawab pertanyaan sebisa dia dan saya sih tidak maksa, kalau saya sudah tanya, dan dia sudah jawab, silahkan penonton menilai jawabannya bagus atau tidak, juga menilai pertanyaan saya fair atau tidak, ini kan kami yang menyelenggarakan acara, penonton yang menilai.
SS: Tapi Fauzi Bowo tidak pernah datang ya?
WW: Tidak datang-datang. Tapi dia bilang alesannya umroh, ini, itu.
SS: Berikut katanya mengkritik iklan?
WW: Iya, jadi saya bilang, selagi dia tidak datang lalu di breaknya keluar iklan dia. Jadi saya tanya pada produser, “kok lucu ya, acara kita disponsor Fauzi Bowo“. Jadi acara yang pura-pura HUT DKI, padahal “mau maju pilihlah yang mampu, Fauzi Bowo” gitulah, tidak hafal, pasti anda tahu iklannya. Jadi setiap station break iklan Fauzi Bowo, calon lain tidak ada iklannya. Adang Daradjatun tidak ada, yang lain pun yang masih dinantikan calonnya itu tidak ada, jadi lucu sekali. Saya mulai rada resah disitu, jadi saya bilang pak Fauzi, datang dong, karena ada iklan itu, terus ada billboard besar di Slipi dan di mana-mana, Selamat Hari Pendidikan Nasional, Hari Ulang Tahun Jakarta DKI fotonya Fauzi Bowo jadi saya pikir, itu kan poster acara DKI, jadi pakai uang DKI, masa sih pakai uang pribadi. Kalau pakai uang DKI kenapa gambar Fauzi Bowo kalau Hari Pendidikan Nasional kenapa bukan gambar buku, gambar sekolah, tapi kok gambar Fauzi Bowo, kalau harus orang kenapa Fauzi Bowo kan Gubernur-nya Sutiyoso. Jadi ya itu banyak pertanyaan yang saya lemparkan yang oleh pihak sana barangkali dianggap sebagai sinis, ya mungkin sinis.
SS: Ini terbalik dengan kontes idol, juri yang dieliminasi bukan peserta. Ok bung Wimar, kita sudah bersama dengan penelepon, yang langsung akan berkomentar dengan anda pak Yusuf silahkan?
Pak Yusuf: Selamat malam Pak Wimar Witoelar?
WW: Selamat malam pak Yusuf
Pak Yusuf: Begini pak Wimar, jadi saya sebetulnya itu agak jengkel. Kenapa itu calon dipentolkan jadi calon Gubernur, calon ini ternyata tidak mau dikritik, lebih bagus Gubernur Sutiyoso. saya kemaren waktu kritik Sutiyoso itu sampai marunda, dia tidak beres, dan dia terima. Tapi kalau toh memang seorang Fauzi bagaimana dia bisa mengatur warga Jakarta yang tertuju kepada ketua DPRD.. coba kritik itu calon? Tidak tepat itu.
SS: Baik terimakasih, Pak Yusuf di Jakarta Utara. Ini masih beruntung Pak Yusuf, Sutiyoso masih menerima kritik pak Yusuf. Tapi anda tidak ya, Wimar’s World dieliminasi karena itu kan pak?
WW: Wimar’s World langsung sebetulnya, menurut direksi Jak-TV sekarang saya bisa cerita karena sudah selesai ceritanya. Menurut direksi Jak-TV melalui Pak Martin, sebetulnya Pak Sutiyoso itu ingin saya hilang sama sekali dari Jak-TV, bahkan waktu itu dia mengeluarkan karena Jak-TV tidak saja mengeliminir saya, karena acara Wimar’s World kami itu rated No.1-2, paling sukseslah ya. Dan di Gubernur Kita, katanya kalau saya datang itu rating tinggi, kalau saya ke luar negeri, ratingnya turun. Jadi Jak-TV sangat baik pada saya, sampai saat ini pun Jak-TV, Effendi Ghazali, baik pada saya, makanya dengan sangat menyesal mereka bilang, Pak Sutiyoso rupanya tidak senang anda di sini, bagaimana kalau anda istirahat sampai Pilkada selesai, dengan asumsi barangkali Fauzi Bowo yang menang. Saya bilang ya tidak usah ada deal istirahat. kalau diberhentikan berhentikan. kalau tidak, tidak. tapi saya rasa sebagai kawan kalau anda berhentikan saya dari Gubernur Kita, kali orang akan ribut, lalu dia pikir kalau Wimar’s World itu tidak membahas pilkada secara khusus, juga bukan politik keras, bicara damai-damai saja karena saya senang percakapan tenang selama 1 jam, malah itu diberhentikan. tidak fair. padahal acara itu harmless tidak menganggu siapa-siapa, tapi sekedar supaya saya tidak ada di Jak-TV. Rupanya setelah Wimar’s World hilang saya kan tetap ada tiap minggu tetap bicara jadi akhirnya mereka putuskan, tadinya mau minta saya mengundurkan diri tapi karena saya tidak mau, diberhentikan, yang adalah sepenuhnya hak mereka secara legal.
SS: Banyak sekali pesan pendek yang masuk dan hampir semuanya mendukung anda bung Wimar?
WW: Mendukung media transparansi. saya sih ya sudah berhenti saja. Jangan dipersoalkan lagi
Nindya: tidak mau dikritik ya, tidak usah ke politik, tidak mau ke pusaran, katanya pergi ke hutan.
Tia: Belum jadi Gubernur saja sudah difaktor belum lagi dana APBD dibuat kampanye, serahkan kepada ahlinya, ahli tilep uang, ahli membungkam kaum yang kritis bencana untuk DKI.
Pak Dodo: Inilah Indonesia gaya Soeharto, masih menderita di Tanah Air kita. Sepetinya Fauzi Bowo jadi Soeharto jilid 2.
Faiz: Bubarkan saja acara Gubernur Kita kalau pemilik Jak-TV takut sama pejabat tertentu.
WW: Itu sangat betul, sangat serius. Jadi saya pikir apa nilainya Gubernur Kita, kalau dia sudah menjadi acara Fauzi Bowo Kita, iklannya Fauzi Bowo, panelis yang mengkritik dia dihentikan, satu panelis sangat pro pada Fauzi Bowo, jadi mau apalagi kasihan Effendi Ghazali kredibilitasnya berkurang nanti jangan-jangan kebawa ke Republik Mimpi bahwa acara ini hanya entertainment saja bukan betul-betul pendidikan politik.
SS: Ok, jadi anda melihat bahwa perjalanan Gubernur Kita nanti akan berat sebelah?
WW: Tidak, menurut saya sudah tidak ada nilainya. sayang uang dan sayang waktunya. lebih baik kalau sudah ada tukul, nonton tukul gitu ya. Karena di acara ini tidak ada political education, bagaimana kita mau mendidik orang untuk kritis misalnya, kalau orang yang kritik diberhentikan. Yang tegas-tegas saja.
SS: Ini ke depan anda akan balik menuntut atau seperti apa?
WW: Tidak-tidak, saya tidak ada tuntutan sama sekali. Saya kan kalau anda ikuti kehidupan saya barusan saja saya di acara café ketemu Sophia Latjuba, nyanyi, kemaren saya shooting film. Jadi kehidupan saya itu sudah kehidupan yang sangat pribadi dan tenang. Tapi waktu itu bulan Agustus saya diminta oleh Jak-TV dan Effendi Ghazali untuk ikut jadi panelis supaya Gubernur Kita ini lebih tajam, lebih kritis, lebih humor, lebih rame, gitu ya. Ya saya ikut, saya tidak memiliki acara itu, jadi saya diajak, saya ikut, terus saya disuruh berhenti ya berhenti. Seperti misalnya ada bus mau ke Bandung, terus saya karena supir pengalaman ikut deh dengerin ada bunyi-bunyi di bus ini, barangkali kalau ada kerusakan ada yang kasih tau, terus saya ikut, terus ada kerusakan saya kasih tau, itu tuh di depan ada begini itu rodanya barangkali saya bisa betulin. Dia bukannya melihat penyakitnya, silahkan anda turun deh di Purwakarta, saya pulang naik bus saja, kembali ke kehidupan saya semula. Semua acara TV saya itu atas undangan, saya tidak pernah minta. Wimar’s World pun diundang, dulu City View, saya itu diundang terus diberhentikan, ya bagus juga jadi hidupnya penuh variasi tidak bosan.
SS: Ke depan punya rencana buat acara sejenis misalnya di stasiun TV?
WW: Saya kira, saya tidak punya kemampuan atau energi seperti Effendi Ghazali untuk membuat acara. Kemampuan saya itu sangat spesialis hanya untuk mendengar, mengkomentari, nyeletuk, dan mencoba menampung suara penonton. Kalau saya dianggap ahli bikin mie kangkung, bukan berarti saya bisa bikin restoran dengan 200 meja saya hanya bisa bikin mie kangkung, saya hanya bisa memberikan komentar, melihat secara jernih, tidak ada agenda apa-apa, dan bercerita seadanya.
SS: Respon, atas acara Gubernur Kita ini, selama ini seperti apa?
WW: Itu barangkali lebih baik ditanyakan kepada station, tapi yang saya dengar itu memang termasuk acara yang digemari dari 80 acara Jak-TV, itu masuk No. 8 atau 9 yang No.1 nya Wimar’s World tadi itu, bukannya sombong ya, yang Wimar’s World bukan acara politik. tapi saya diberitahu oleh Bapak Timbo Siahaan yang adalah salah seorang pimpinan station bahwa wah kalau pak Wimar tidak ada itu drop. setiap saya tidak ikut itu drop, jadi memang orang ya ada nilai entertainmentnya atau juga ada nilai dari pertanyaan-pertanyaan yang terhitung polos atau bisa dibilang tajam ya, karena orang tidak senang juga kalau acaranya hanya nyanyi-nyanyi, dan hura-hura, padahal itu acara politik.
SS: Ok, secara on air, Fauzi Bowo tidak pernah datang, tapi kalau misalnya di lain acara ini pak Wimar pernah bertemu dengan Fauzi Bowo?
WW: Saya tidak pernah bertemu barangkali itu salah saya juga karena saya tidak aktif politik, saya selain di Gubernur Kita, tidak mengamati, tidak mengikuti kampanye, tidak juga berhubungan, dengan calon Gubernur yang manapun jadi ya mana saya pernah liat tapi saya diberi tahu oleh kawan-kawan bahwa dia memang, anda mungkin lebih tahu jarang atau tidak pernah berdialog tajam dengan pers. Padahal saya pikir, kalau dia datang di Gubernur Kita saya merasa diri orang yang sopan, saya tidak akan mengada-ngada pertanyaanya, latihan yang baik buat Fauzi Bowo kalau dia terpilih untuk menghadapi pers suatu saat dia harus menghadapi pers dong, kecuali mau kayak Pak Soeharto ngumpetnya selama 20 tahun, sampai dia PD, masa sih…
SS: Bagaimana komentar panelis yang seperti Effendi Ghazali atas pemecatan anda?
WW: Lucunya sejak saya digoyang dan dipecat tidak ada kabar sama sekali Effendi Ghazali, padahal lucu, sampai dengan acara yang terakhir dia itu sangat mendukung saya, jadi saya itu, aneh ini ya Sandra, tidak satu kali pun ditegur atau diperingatkan untuk berubah di acara itu. Jadi yang minta saya berubah tuh kalau suatu malam ada telepon, direksi kirim Martin suruh ketemu saya tapi di acaranya setiap saya bikin jokes ketawa, setiap acara tuh closing statementnya diserahkan pada saya oleh Effendi Ghazali. Terus setiap saya tajam, “sorry nih”, mereka bilang, “gak papa WW ini bagus, harus gitu, kita terimakasih pada anda, sebab kami itu tidak ada yang bisa”. Saya pulang dengan perasaan yang enak. orang juga takut selamat wakil pimp.nya Effendi Ghazali bilang “Pak Wimar closing statement anda elegan”, itu bisa ditanyakan pada mereka, jadi saya merasa menjalankan tugas saya dengan baik begitu, jadi anehlah waktu sekonyong-konyong diberhentikan itu jelas keputusan off air, keputusan di luar acara.

SS: Ok, jadi kembali ke soal pemberhentian anda, jadi selama ini kan sampai tadi, baru menerima pemberitahuan secara lisan?
WW: 7.30 pagi secara telepon. (Senin 21/5)
SS: Kalau begitu, alasan pemberhentian ini apakah memang sudah fix dari Fauzi Bowo yang berkomunikasi langsung kepada….?
WW: Iya ini dijelaskan betul pada pertemuan-pertemuan itu bahwa Pak Fauzi Bowo sangat keberatan karena saya menuduh macam-macam. Saya bilang ya sebetulnya kan tinggal datang dan membantah, lalu tinggal liat siapa yang bener. Terus mereka concern bahwa dia tidak mau datang gitu, jangan-jangan dia tidak mau datang. Saya bilang saya masih baik kalau begitu, tunggu saja saya mau ke negeri Belanda bulan depan, kasih tau mungkin dia datang kalau saya tidak ada. Atau kalau gak saya harus berhenti sama sekali, karena bagaimana ya, kalau dia datang masa saya tidak tanya, masa dia takut ditanya saya di suatu acara TV dimana tidak mungkin kita berkelakuan tidak sopan. kalau saya tidak sopan juga malu sendiri kan? Jadi saya menganggap ini suatu diskusi yang sehat kecuali kalau kegiatan Fauzi Bowo begitu tidak sehatnya sehingga diomongin pun tidak mau.
SS: Kalau ada station lain baik TV atau Radio yang menawarkan acara sejenis Gubernur Kita apa anda masih mau?
WW: Setiap tawaran itu saya akan tanggapi kasus per kasus selama ini berjalan saya hampir tiap hari ditawarin di station lain, walaupun bukan mengenai topik Gubernur Kita ya. Saya kehidupannya adalah dalam komunikasi jadi adalah setengah kewajiban saya, setengah hobi saya untuk berbicara dimana diundang selama saya mengenal subject itu, kalau saya ditanya mengenai topik yang saya tidak tahu ya saya tidak bisa memenuhi, tapi dimana saya diundang saya dateng. Jadi kalau anda yang mengundang acara begini saya akan lihat. Dan saya juga barangkali tidak mau mempersulit orang, saya ingin tanya apakah ada rambu-rambu, karena di Jak TV waktu saya diminta di Wimar’s World saya juga tanya, “Pak, sebelum kita mulai saya mau tanya apa ada rambu politik yang saya harus jaga supaya tidak saya langgar, karena saya tanpa sengaja barangkali bisa mengacaukan rencana anda, saya bukan pejuang murni, kalau anda gak mau repot jadi diberi tahu di awal”. “Oh enggak-enggak, anda bebas aja, sekarang kita kan jaman bebas” begitu respon mereka.